Skip to main content

MENCARI UNTUK DITEMUKAN

 (The Song of Songs, Gustave Moreau 1839)

PENCARIAN. Kata itu rasanya cukup menggambarkan proses kependetaan sahabat saya, Agetta Putri Awijaya, yang kerap saya sapa Getta. Beberapa kali Getta bertanya dan mempertanyakan proses kependetaan yang ia jalani, karena ia merasa masih belum mantap untuk menjawab panggilan sebagai pendeta. Ia selalu merasa harus mencari, bertanya, dan mempertanyakan. Itulah Getta yang saya kenal sejak kuliah. Ia tidak pernah nyaman dengan jawaban-jawaban mudah, tidak pernah puas dengan kebenaran-kebenaran dogmatis, tak pernah cukup dengan yang bagus-bagus dan indah-indah. Ia selalu mencari, sekalipun ia harus keluar dari zona nyaman. Menariknya, iya pun tidak pernah cukup dengan menemukan, dan terus melanjutkan pencariannya. Dalam refleksi penahbisannya pun saya menangkap kesan pencarian Getta yang tak kunjung berakhir.

Dalam refleksinya, Getta menempatkan dirinya sebagai sahabat Sang Kekasih Perempuan yang menemani sahabatnya itu untuk mencari kekasih-Nya. Kesediaanya menemani Sang Kekasih untuk mencari kekasih-Nya ini karena ia jatuh cinta dengan cara Allah mencintai, cara Allah diam-diam merindukan. Ia terpesona dengan bagaimana Allah mencari mereka yang dipisahkan dari-Nya, disingkirkan, dan dihilangkan. “Ke mana perginya kekasihmu, hai jelita di antara wanita? Ke jurusan manakah kekasihmu pergi, supaya kami mencarinya besertamu?” Getta merefleksikan kehidupannya serta proses kependetaannya sebagai pencarian bersama Allah.

Saya tidak akan berpanjang lebar dengan refleksi Getta, karena bisa anda baca sendiri. Saya sendiri melihat bagaimana Getta memosisikan diri sebagai sahabat Kekasih Perempuan, Sang Jelita di antara Wanita, sebagai hasil pencariannya selama ini. Namun, bukan berarti Getta telah menemukan. Justru ialah yang telah ditemukan. Ia telah ditemukan oleh Sang Kekasih yang mencintainya dan merindukannya. Ia telah ditemukan dan tidak dapat pergi menjauhi Sang Kekasih. Ia mencari untuk ditemukan. Bagi saya, inilah panggilan seorang pendeta. Mencari bukan untuk menemukan, karena godaan terbesar seorang pendeta adalah merasa sudah menemukan lalu malas untuk mencari lagi. Dalam pencarian kita, justru Allahlah yang menemukan kita, seperti kata Rasul Paulus, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Itulah alasan saya memberi judul refleksi ini, “Mencari untuk Ditemukan.” Akan tetapi, bukan berarti ketika kita telah ditemukan lalu pencarian kita berakhir. Karena sesungguhnya sejak semula Ia telah menemukan dan menangkap kita, bahkan sebelum kita mencari.

Getta, pencarian kita tidak berhenti ketika kita menjawab, “Ya, dengan segenap hati.” Kita telah ditemukan dan direngkuh oleh Sang Kekasih untuk menemani-Nya mencari mereka yang dipisahkan, disingkirkan, diasingkan, dan dihilangkan. Pada saat yang bersamaan juga Ia menemani kita untuk terus menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak selalu dogmatis, untuk mencari jawaban-jawaban untuk tidak selalu mudah, dan merindukan yang tidak selalu bagus dan indah. Biarlah pencarian ini menjadi pencarian yang tidak pernah berakhir hingga Sang Kekasih merengkuh kita dalam Persekutuan Cinta Kasih Kekal. Mungkin pencarian akan semakin berat, mungkin juga keadaan memaksa kita untuk malas mencari dan berhenti merindu. Tetapi, Sang Kekasih selalu bersama kita dan medekap kita dalam menapaki pencarian ini. Teruslah mencari, teruslah merindu. Jangan biarkan keadaan memaksamu untuk malas mencari dan berhenti merindu.


(Tulisan ini dibuat dalam rangka penahbisan Agetta Putri Awijaya ke dalam jabatan Pendeta GKI di jemaat GKI Bandar Lampung)

Comments

Popular posts from this blog

Sampah... Banjir...

Jakarta bebas dari sampah dan banjir itu mimpi! Maaf, jangan tersinggung dengan pernyataan saya. Apalagi para tukang sapu jalan dan tukang sampah yang setia menyapu jalanan yang kotor dan mengangkut sampah setiap pagi, serta gubernur baru DKI yang tak pernah lelah blusukan untuk memperbaiki kota ini. Itu tidak mutlak kok. Pernyataan saya itu relatif, kondisional, alias bersyarat dan tergantung. Kalau keadaan seperti sekarang ini tidak diubah, pernyataan saya itu bisa jadi mutlak. Kondisional atau bersyarat karena bisa diubah, tergantung bagaimana masyarakat menyikapi sampah dan banjir. Saya bisa bilang begitu juga karena pengalaman lima tahun lebih tinggal di Jakarta. sampah di Jakarta ( sumber ) Menyebalkan rasanya berjalan-jalan di jalanan atau di tempat umum di Kota Jakarta ini, apalagi kalau membawa minuman dan makanan yang menghasilkan sampah. Bagaimana tidak menyebalkan, jika saya "dipaksa" menenteng sampah ratusan meter karena tidak tersedianya tempat sampah ...

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Saya sengaja membuat judul tulisan ini dengan pertanyaan, “Apakah engkau mengasihi Aku?” karena sahabat saya, Firmanda Tri Permana, memilih tema penahbisannya, “Engkau tahu aku mengasihi-Mu.” Saya percaya bahwa Nanda memilih tema ini sebagai jawabannya atas panggilan Tuhan untuk menggembalakan domba-domba-Nya, sebagaimana Petrus menjawab pertanyaan Yesus dalam percakapan Petrus dan Yesus setelah kebangkitan dan sebelum kenaikan-Nya ke surga. Percapakan ini merupakan sebuah bentuk pengutusan bagi Petrus untuk melanjutkan karya Yesus di dunia. Petrus dikenal sebagai tokoh yang impulsif, cenderung bertindak atau berbicara sebelum berpikir. Ia juga pernah dengan gegabah memotong telinga Malkhus, prajurit Romawi yang hendak menagkap Yesus; bahkan sebelum percakapan dengan Yesus, ia yang berada di perahu bergegas berpakaian dan melompat ke danau untuk menemui Yesus di pantai. Yang menarik, sementara kebanyakan orang akan melepaskan pakaiannya saat melompat ke air , Petrus malah mengenakan ...

The Partaker

Mengapa   partaker ?   Partaker   adalah kata benda yang diturunkan dari kata kerja   partake , yang artinya "mengambil bagian." Jadi, partaker dapat diterjemahkan "pengambil bagian" atau "orang yang mengambil bagian." Mengambil bagian dalam apa? Ini yang perlu dijelaskan. Partaking, partisipasi, atau ambil bagian sering kita lihat dalam kerangka sebuah kegiatan. Misalnya, saya mengambil bagian atau berpartisipasi dalam upacara bendera di sekolah, atau saya mengambil bagian dalam perkumpulan tertentu. Namun, mengambil bagian yang saya maksud di sini adalah mengabil bagian dalam Allah, dalam persekutuan Allah. Dalam kekristenan, teruma kekristenan Timur, berpartisipasi atau mengambil bagian dalam Allah menjadi konsep yang penting dan merupakan tujuan kehidupan manusia. Allah menciptakan manusia dan ciptaan lainnya untuk mengambil bagian dalam persekutuan ( koinonia ) dengan Allah. Namun, tujuan ini dirusak oleh dosa. Dosa ( hamartia ) berarti meleset,...