Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Reflection

MENCARI UNTUK DITEMUKAN

  (The Song of Songs, Gustave Moreau 1839) PENCARIAN. Kata itu rasanya cukup menggambarkan proses kependetaan sahabat saya, Agetta Putri Awijaya, yang kerap saya sapa Getta. Beberapa kali Getta bertanya dan mempertanyakan proses kependetaan yang ia jalani, karena ia merasa masih belum mantap untuk menjawab panggilan sebagai pendeta. Ia selalu merasa harus mencari, bertanya, dan mempertanyakan. Itulah Getta yang saya kenal sejak kuliah. Ia tidak pernah nyaman dengan jawaban-jawaban mudah, tidak pernah puas dengan kebenaran-kebenaran dogmatis, tak pernah cukup dengan yang bagus-bagus dan indah-indah. Ia selalu mencari, sekalipun ia harus keluar dari zona nyaman. Menariknya, iya pun tidak pernah cukup dengan menemukan, dan terus melanjutkan pencariannya. Dalam refleksi penahbisannya pun saya menangkap kesan pencarian Getta yang tak kunjung berakhir. Dalam refleksinya, Getta menempatkan dirinya sebagai sahabat Sang Kekasih Perempuan yang menemani sahabatnya itu untuk mencari kekasih-...

Ketika Allah Merengkuh Semesta

Transfigurasi dan Mandorla Sahabat saya, Christian Galabara Alfadio Putra, atau yang akrab saya sapa Titi, merumuskan tema penahbisannya, “Membumi Raga, Menjejak Asa”; kata-kata yang cukup puitis dan sepertinya sulit dipahami jika hanya dibaca sekilas. Akan tetapi, di balik tema yang puitis itu terdapat refleksi yang sesuai temanya, “membumi.” Saya mengenal Titi sebagai seorang yang membumi. Gaya hidupnya sederhana, bahkan cenderung “tak terawat”, dan ia memiliki perhatian yang besar tehadap perjuangan untuk keadilan dan pembebasan bagi yang tertindas. Melalui tema “Membumi Raga, Menjejak Asa”, ia merefleksikan peristiwa transfigurasi sebagai sebuah bagian dari karya keselamatan Allah yang mulia di dalam Kristus yang merangkul seluruh ciptaan, Allah yang membumi raga dan menghadirkan asa bagi yang hina dan tersisih. Jika merefleksikan transfigirasi, gambaran yang selalu hadir dalam pikiran saya adalah mandorla . Apa itu mandorla ? Mandorla adalah kata dalam Bahasa Italia yang berarti ...

Kamu Melakukannya untuk Aku

“sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40) Allah yang Tidak Terduga Allah Trinitas, fokus dan sumber segala kehidupan, seringkali dijelaskan dengan perikhoresis. Perikhoresis berasal dari Bahasa Yunani, yang dapat diartikan kesalingterikatan mutual antara ketiga Pribadi ilahi, atau persekutuan tiga Pribadi ( person ) ilahi yang sangat akrab sedemikian hingga ketiganya saling masuk, saling rangkul dan saling memberi ruang. Perikhoresis juga kerap kali dimaknai sebagai tarian ilahi, dari kata khoreuo , yang berarti menari. Perikhoresis berarti tarian ilahi yang merengkuh seluruh ciptaan untuk menari bersama Allah Trinitas, menuju ke dunia dan kembali kepada Allah Trinitas. Perikhoresis mengandung kata khora , yang berarti ruang, wadah, rahim. Khora menjadi sebuah bagian yang penting dari perikhoresis. Beberapa teolog menjelaskan khora ini sebagai ruang yang dib...

Pengharapan pada Salib

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Judul sebuah lagu yang diadopsi menjadi tema penahbisan sahabat saya, Sosam Zebua. Sosam merefleksikan tema ini sebagai gambaran sebuah proses kehidupan di mana jatuh dan bangkit datang silih berganti bahkan berkelindan menjadi satu. Ada kalanya hidup membawa pada kekecewaan, kemarahan, ketakutan dan kejatuhan. Tetapi ada masa di mana kita bangkit dan berdiri. Inilah yang Sosam maknai dengan satu kata: pengharapan. Salib dan Kebangkitan Berbicara soal pengharapan dalam kekristenan, saya selalu teringat dengan teolog Protestan asal Jeman yang terkenal dengan teologi pengharapan, yakni Jürgen Moltmann. Moltmann memberi penekanan pada eskatologi sebagai doktrin tentang pengharapan kristiani. Ia mengatakan bahwa ekstaologi tidak tepat diletakkan di akhir, karena dari awal sampai akhir kekristenan adalah eskatologi, pengharapan, yang melihat serta bergerak ke depan. Konsep Moltmann mengenai teologi pengharapan dipengaruhi oleh pengalaman prib...

Hari Ini Bumi Membutuhkan Kebaikan Kita

Awalanya saya bingung mau menulis apa ketika diminta oleh Tunggul – sahabat saya dari TK yang tidak terpisahkan, namun akhirnya dipisahkan oleh sinode – untuk menulis sebuah artikel tentang lingkungan hidup dalam rangka penahbisannya. Sebenarnya saya merasa minder dengan Tunggul yang memang memiliki minat dan pengalaman dalam isu lingkungan hidup. Namun, saya kemudian saya sadar bahwa setiap pribadi manusia itu unik dan original, dan tidak ada orang lain yang pernah menghidupi kehidupan yang kita hidupi. Jadi, walaupun saya masih minder, tapi saya yakin tulisan saya ini unik. Identifikasi dan Alienasi Tunggul memiliki kepedulian yang begitu besar pada masalah lingkungan hidup. Isu-isu krisis lingkungan seperti pencemaran, pemanasan global dan perubahan iklim menjadi perhatiannya sejak masa kuliah di STT Jakarta. Dalam ibadah penahbisannya, bahkan tema yang diangkat masih berkaitan dengan lingkungan hidup, yakni “Identifikasi.” Menurut Arne Naess, filsuf yang dikutipnya, Identif...

Allah yang Turut Menderita: Memaknai Allah yang Berbelarasa dengan Realitas Hidup Manusia

Wow... Ternyata sudah setahun lebih blog ini mati suri. Sudah saatnya membangkitkannya lagi. Saatnya  posting  lagi. Sebenarnya tulisan ini sudah saya tulis sekitar hampir dua tahun lalu dan pernah dimasukkan dalam Kolom Bina Jemaat GKI Cianjur awal tahun 2014, tetapi masih relevan sampai sekarang. Jadi, sila membaca! (kalau ada yang membaca) ------------------------------- Suatu hari, dalam kamp konsentrasi Nazi di Auschwiz pada masa Perang Dunia II, terdapat tiga tiang gantungan dengan tiga orang terhukum. Salah satu di antaranya adalah sorang anak kecil. Kepala kamp membacakan vonis. Semua orang memandang anak itu, ia terlihat pucat dan menggigit bibirnya. Tiga korban sama-sama naik di kursi yang disediakan, lalu tali gantungan dililitkan pada kepala mereka. Dua orang dewasa berteriak “hidup kemerdekaan!” tetapi anak itu diam saja. Orang-orang mulai bertanya-tanya “di mana Tuhan, di mana Dia?” Ketiga kursi lalu ditumbangkan. Dalam beberapa saat, kedua orang dewasa...

Rutinitas Menumpulkan Otak

Mengapa Rutinitas menumpulkan otak? Jangan salahkan rutinitas. Saya sendiri tidak menanggap rutinitas itu kosong dan tak bermakna. Justru rutinitas yang dimaknai itu sangat baik. Jadi rutinitas tidak dilakukan hanya sebagai formalitas. Nah, formalitas itu yang bahaya. Rutinitas ditambah formalitas, maka jadilah kita robot yang diprogram untuk melakukuan sesuatu tanpa perlu bertanya atau mengkritisi. Lalu, mengapa rutinitas menumpulkan otak? Sebenarnya tidak juga. Rutinitas yang dijalankan menggunakan otak malah mengasah otak kita. Misalnya rutinitas membaca, belajar, berdiskusi. Itu menjadi rutinitas yang mengasah otak kita, menajamkan pikiran kita. Hanya saja, kembali lagi, rutinitas belajar dan membaca sekalipun kalau tidak dimaknai atau direfleksikan akan menjadi formalitas. Kita belajar karena memang sudah seharusnya begitu, tanpa alasan, tanpa motivasi, tanpa tujuan. Ada juga orang yang belajar untuk punya pengetahuan. Tapi setidaknya masih ada tujuannya, daripada belajar karena...

Melawan dengan Elegan

Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Mat. 5:44) Mahatma Gandhi merupakan seorang pemimpin perjuangan Bangsa India melawan penindasan Inggris  untuk memperoleh kemerdekaan. Dalam perjuangannya, Gandhi tidak melawan dengan kekerasan. Ia menggunakan jalan damai, dan melawan kekerasan tanpa menggunakan kekerasan juga. Melawan penindasan tidak secara frontal namun menggunakan kekuasaan orang lain itu untuk menyadarkan. Ia melawan diskriminasi dengan menunjukkan kalau semua manusia sebenarnya setara. Perjuangan Gandhi yang tanpa kekerasan ini berasal dari tradisi Hindu kuno,  yakni  satyagraha  (jalan kebenaran) dan  ahimsa  (non-kekerasan). Namun, Gandhi sendiri mengakui bahwa ia mendapat banyak inspirasi dari Yesus. Ajaran-ajaran Yesus dalam khotbah di bukit sebenarnya banyak mengandung ajaran untuk melawan penindasan tanpa menggunakan kekerasan. Gandhi sendiri mengakui bahwa jika semua orang Kristen mengamalkan ajaran-aj...