Skip to main content

Posts

Sampah... Banjir...

Jakarta bebas dari sampah dan banjir itu mimpi! Maaf, jangan tersinggung dengan pernyataan saya. Apalagi para tukang sapu jalan dan tukang sampah yang setia menyapu jalanan yang kotor dan mengangkut sampah setiap pagi, serta gubernur baru DKI yang tak pernah lelah blusukan untuk memperbaiki kota ini. Itu tidak mutlak kok. Pernyataan saya itu relatif, kondisional, alias bersyarat dan tergantung. Kalau keadaan seperti sekarang ini tidak diubah, pernyataan saya itu bisa jadi mutlak. Kondisional atau bersyarat karena bisa diubah, tergantung bagaimana masyarakat menyikapi sampah dan banjir. Saya bisa bilang begitu juga karena pengalaman lima tahun lebih tinggal di Jakarta. sampah di Jakarta ( sumber ) Menyebalkan rasanya berjalan-jalan di jalanan atau di tempat umum di Kota Jakarta ini, apalagi kalau membawa minuman dan makanan yang menghasilkan sampah. Bagaimana tidak menyebalkan, jika saya "dipaksa" menenteng sampah ratusan meter karena tidak tersedianya tempat sampah ...

Alay? Ciyus, Miapah?

Belakangan ini, muncul lagi kosakata-kosakata baru dalam dunia pergaulan anak muda di Indonesia, terutama do kota-kota besar seperti Jakarta. Beberapa waktu lalu muncul kata " kamseupay " yang merupakan bahasa prokem era 1980-an dan kemudian dipopularkan kembali oleh selebriti Marrisa Haque, yang merupakan hinaan sangat rendah pada seseorang (atau merupakan akronim dari "kampungan sekali, udik, payah"). Namun dalam perkembangannya, makna kata ini bergeser menjadi semakin luas. Bahkan, orang yang marah karena komputer jinjingnya bermasalah pun berkata "ah, kamseupay nih laptop ." Saya telah menyinggung ini dalam tulisan yang berjudul " Ayu Ting-ting, Kamseupay, dan Sub-Altern ." Kemunculan kosakata-kosakata "aneh" seperti ini menandakan kebosanan masyarakat bahasa yang baku. Dalam skala yang lebih besar, hal-hal yang nyleneh seperti ini merupakan perlawanan terhadap kemapanan. Ini terjadi pada komunitas-komunitas sub-altern atau komu...

Pantang Pulang sebelum Padam

Kalau moto polisi "Melayani dan Melindungi," moto pramuka "Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan," maka moto pemadam kebakaran di Indonesia adalah "Pantang Pulang sebelum Padam." Makna yang luar biasa terkandung dalam moto ini. Jika melihat kenyataan di lapangan, agaknya tidak terlalu luar biasa, tetapi pemadam kebakaran Indonesia konsisten dengan moto mereka, karena itu mereka selalu datang saat kebakaran sudah hampir pada, melakukan finishing touch , dan kemudian pulang. Sebenarnya tidak semua dikarenakan kelambanan pemadam kebakaran. Dalam banyak kasus, penyebab keterlambatan pemadam kebakaran datang ke lokasi adalah kemacetan lalu lintas (terutama di Jakarta), dan lokasi yang sulit terjangkau karena terletak di pemukiman padat penduduk. Nah, kalau nonton film-film Hollywood yang bercerita tentang pemadam kebakaran, saya sering kagum. Saya kagum dengan pemadam kebakaran di film-film itu yang berupaya semampu mereka untuk menyelamatkan orang yang terk...

Visi dan Daya Juang

Ternyata saya punya daya juang juga. Semua orang, bahkan saya sendiri, selama ini berpikir saya ini orang yang santai, tidak mau susah, tidak punya tujuan, cari aman, pragmatis, dan banyak kelemahan lainnya. Ternyata itu semua tidak sepenuhnya benar. Akhirnya saya bias menentukan visi dan berjuang untuk mencapai visi itu. Yah, walaupun hanya simulasi naik gunung. Naik gunung? Ya, untuk pendaki yang bisanya hanya sampai kaki gunung seperti saya, menanjak sampai setidaknya alun-alun adalah pencapaian yang lumayan. Alun-alun? Ya, Alun-alun Suryakencana, Gunung Gede. Kok, sepertinya spektakular sekali? Bukan spektakular. Tapi ini adalah pengalaman saya menemukan visi, dan menyadari pentingnya visi, sekaligus pembuktian bahwa saya punya daya juang untuk mencapai visi, tidak mudah menyerah. Kalau selama ini saya dikenal tidak punya visi dan tidak punya daya juang, mungkin anggapan-anggapan itu tidak sepenuhnya benar.  Sekarang saya menyadari pentingnya visi, dan menyadari juga pengaruh...

Ayu Ting Ting, Kamseupay, Sub-Altern

Mendengarkan lagu Ayu Tingting yang berjudul "Sik-asik" mengingatkan saya akan perbincangan dengan teman-teman beberapa waktu lalu mengenai komunitas sub-altern. Sebenarnya ini berkaitan dengan behasa sebagai alat kolonalisasi dan perlawanan dari komunitas sub-altern. Apa hubungannya Ayu Tingting dengan bahasa? Baiklah. Kalau saya mendengar musik, biasanya saya akan berusaha mengasosiasikan lagu yang saya dengar dengan salah satu genre musik yang sudah dikenal (baca: baku). Misalnya, lagu "Don’t Worry"-nya Mas Tony Q akan diasosisasikan dengan genre musik reggae; atau lagunya Taylor Swift yang berjudul "Love Story" dengan mudahnya akan saya identifikasi sebagai musik country. Nah, bagaimana dengan "Sik-asik"-nya Ayu Tingting? Agak nge-dangdut, tapi sedikit K-Pop. Kalau menurut Ko Hans, lagu Sik-asik adalah salah satu bentuk perlawanan komunitas sub-altern  terhadap kemapanan yang selalu berhubungan dengan kolonialisasi. Nah, ini sebenarnya yang...

Ketakutan dan Kekuatiran

Setiap orang pasti memiliki ketakukan. Entah itu takut kecoak, takut ketinggian, atau takut hantu. Ketakutan juga bisa dikatakan kekuatiran. Orang takut naik pohon karena kuatir jatuh misalnya. Orang kuatir akan masa depannya, kemudian takut menjalaninya. Mungkin saat ini, itulah yang saya rasakan. Saya takut menjalani proses ke depan karena saya kuatir. Saya kuatir akan masa depan saya, akan apa jadinya saya nanti, kuatir akan karir dan pekerjaan, serta pasangan hidup. Walaupun sebenarnya saya tidak terlalu memikirkannya ( yeah, I live for today ), tetap ada rasa kuatir dan takut dalam diri saya. Ketakutan itu juga ditambah dengan perubahan yang saya rasakan sangat tiba-tiba, dan saya mau tidak mau, suka tidak suka, harus menghadapiunya tanpa persiapan. Saya kaget dengan keadaan yang tiba-tiba berubah, dengan kondisi yang tidak pernah saya persiapkan untuk saya jalani. Akhirnya saya bingung, takut, kuatir. Saya bingung harus melakukan apa, saya kuatir bagaimana saya nantinya...

Serenity Prayer

"God, give us grace to accept with serenity the things that cannot be changed, Courage to change the things which should be changed, and the Wisdom to distinguish the one from the other. Living one day at a time, Enjoying one moment at a time, Accepting hardship as a pathway to peace, Taking, as Jesus did, this sinful world as it is, not as I would have it,  Trusting that You will make all things right, if I surrender to Your will, So that I may be reasonably happy in this life, and supremely happy with You forever in the next. Amen."  Reinhold Niebhur