Skip to main content

Posts

Allah yang Turut Menderita: Memaknai Allah yang Berbelarasa dengan Realitas Hidup Manusia

Wow... Ternyata sudah setahun lebih blog ini mati suri. Sudah saatnya membangkitkannya lagi. Saatnya  posting  lagi. Sebenarnya tulisan ini sudah saya tulis sekitar hampir dua tahun lalu dan pernah dimasukkan dalam Kolom Bina Jemaat GKI Cianjur awal tahun 2014, tetapi masih relevan sampai sekarang. Jadi, sila membaca! (kalau ada yang membaca) ------------------------------- Suatu hari, dalam kamp konsentrasi Nazi di Auschwiz pada masa Perang Dunia II, terdapat tiga tiang gantungan dengan tiga orang terhukum. Salah satu di antaranya adalah sorang anak kecil. Kepala kamp membacakan vonis. Semua orang memandang anak itu, ia terlihat pucat dan menggigit bibirnya. Tiga korban sama-sama naik di kursi yang disediakan, lalu tali gantungan dililitkan pada kepala mereka. Dua orang dewasa berteriak “hidup kemerdekaan!” tetapi anak itu diam saja. Orang-orang mulai bertanya-tanya “di mana Tuhan, di mana Dia?” Ketiga kursi lalu ditumbangkan. Dalam beberapa saat, kedua orang dewasa...

Rutinitas Menumpulkan Otak

Mengapa Rutinitas menumpulkan otak? Jangan salahkan rutinitas. Saya sendiri tidak menanggap rutinitas itu kosong dan tak bermakna. Justru rutinitas yang dimaknai itu sangat baik. Jadi rutinitas tidak dilakukan hanya sebagai formalitas. Nah, formalitas itu yang bahaya. Rutinitas ditambah formalitas, maka jadilah kita robot yang diprogram untuk melakukuan sesuatu tanpa perlu bertanya atau mengkritisi. Lalu, mengapa rutinitas menumpulkan otak? Sebenarnya tidak juga. Rutinitas yang dijalankan menggunakan otak malah mengasah otak kita. Misalnya rutinitas membaca, belajar, berdiskusi. Itu menjadi rutinitas yang mengasah otak kita, menajamkan pikiran kita. Hanya saja, kembali lagi, rutinitas belajar dan membaca sekalipun kalau tidak dimaknai atau direfleksikan akan menjadi formalitas. Kita belajar karena memang sudah seharusnya begitu, tanpa alasan, tanpa motivasi, tanpa tujuan. Ada juga orang yang belajar untuk punya pengetahuan. Tapi setidaknya masih ada tujuannya, daripada belajar karena...

Melawan dengan Elegan

Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Mat. 5:44) Mahatma Gandhi merupakan seorang pemimpin perjuangan Bangsa India melawan penindasan Inggris  untuk memperoleh kemerdekaan. Dalam perjuangannya, Gandhi tidak melawan dengan kekerasan. Ia menggunakan jalan damai, dan melawan kekerasan tanpa menggunakan kekerasan juga. Melawan penindasan tidak secara frontal namun menggunakan kekuasaan orang lain itu untuk menyadarkan. Ia melawan diskriminasi dengan menunjukkan kalau semua manusia sebenarnya setara. Perjuangan Gandhi yang tanpa kekerasan ini berasal dari tradisi Hindu kuno,  yakni  satyagraha  (jalan kebenaran) dan  ahimsa  (non-kekerasan). Namun, Gandhi sendiri mengakui bahwa ia mendapat banyak inspirasi dari Yesus. Ajaran-ajaran Yesus dalam khotbah di bukit sebenarnya banyak mengandung ajaran untuk melawan penindasan tanpa menggunakan kekerasan. Gandhi sendiri mengakui bahwa jika semua orang Kristen mengamalkan ajaran-aj...

Pencitraan: Sekadar Citra atau Menjadi Mitra

Pemilu semakin dekat. Partai-partai dan caleg-calegnya semakin gencar mengiklankan diri. Semakin aneh-aneh juga kampanye dalam bentuk poster, stiker, dan baliho. Saya ingat pada saat banyak terjadi bencana seperti banjir dan erupsi gunung berapi beberapa waktu lalu, tidak jarang saya menemukan bendera-bendera partai di posko-posko penanggulanan bencana. Kalau biasanya hanya lembaga swadaya masyarakat atau lembaga pemerintahan yang kerepotan mendirikan posko-posko untuk menolong korban bencana alam, sekarang posko-posko berbendera partai juga menjamur seperti cendawan di musim hujan. Bukan hanya bendera atau lambang partai yang terpampang, tetapi juga nama dan foto caleg ikut menghias posko penanggulangan bencana itu. Lalu, ke mana saja orang-orang atau partai-partai itu pada bencana banjir setahun dan beberapa tahun lalu? Di sini kelihatan bahwa caleg-caleg itu mau memperlihatkan kalau mereka peduli pada korban bencana alam. Semakin dekat pemilu, para pembesar partai yang memiliki m...

Mencintai Allah, Mencintai Alam

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film yang berjuudul “Sokola Rimba.” Film ini diangkat dari kisah nyata Butet Manurung, seorang guru yang mengajar anak-anak Suku Kubu, yang lebih dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba di tepi Sungai Makekal, hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, yang diperankan oleh Prisia Nasution. Film yang disutradarai oleh Riri Riza ini diangkat dari buku dengan judul yang sama, tulisan Butet berdasarkan pengalamannya mengajar anak-anak rimba. Butet, sang guru, rela meninggalkan kemapanan hidup di kota dan masuk ke dalam hutan Jambi untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak rimba, mengajarkan mereka baca-tulis dan berhitung agar mereka tidak mudah ditipu oleh orang-orang luar yang menggusur mereka demi kepentingan membuka lahan kelapa sawit di tanah milik Orang Rimba. Orang-orang yang ingin membuka lahan sawit ini biasanya menggunakan surat perjanjian yang isinya merugikan Orang Rimba. Dalam kondisi yang buta huruf, kelompok Orang Rimba a...

Telanjang

Telanjang di depan umum itu tidak sopan!!! Ada benarnya, tergantung waktu dan tempatnya. Ratusan tahun lalu, orang Indonsedia telanjang di tempat umum, bukan sesuatu yang tidak sopan. Tapi sekarang, jangankan telanjang, perempuan yang kelihatan bahu atau belahan dada saja dianggap tidak senonoh.dibilang sok kebarat-baratan. Ikut-ikutan barat yang tidak bermoral. Orang Eropa yang telanjang atau berpakaian minim dibilang tidak tahu etiket, tidak bermoral, dan sebagainya. weits, tunggu dulu. ratusan tahun lalu, itu yang dikatakan orang Eropa ketika melihat orang Indonesia telanjang, atau hanya memakai cawat di depan umum. Mereka bilang orang-orang itu barbar, tidak beradab, tidak bermoral, dan sebagainya. Lalu mereka mengajarkan orang-orang yang dibilang primitif itu untuk pakai pakaian mereka, kemeja, gaun, celana, rok, jas dan dasi (seutas kain tidak penting yang akan bikin saya dikritik habis-habisan di hari Minggu kalau tidak memakainya). Lalu mereka bilang itu yang senonoh, yang b...

Sampah... Banjir...

Jakarta bebas dari sampah dan banjir itu mimpi! Maaf, jangan tersinggung dengan pernyataan saya. Apalagi para tukang sapu jalan dan tukang sampah yang setia menyapu jalanan yang kotor dan mengangkut sampah setiap pagi, serta gubernur baru DKI yang tak pernah lelah blusukan untuk memperbaiki kota ini. Itu tidak mutlak kok. Pernyataan saya itu relatif, kondisional, alias bersyarat dan tergantung. Kalau keadaan seperti sekarang ini tidak diubah, pernyataan saya itu bisa jadi mutlak. Kondisional atau bersyarat karena bisa diubah, tergantung bagaimana masyarakat menyikapi sampah dan banjir. Saya bisa bilang begitu juga karena pengalaman lima tahun lebih tinggal di Jakarta. sampah di Jakarta ( sumber ) Menyebalkan rasanya berjalan-jalan di jalanan atau di tempat umum di Kota Jakarta ini, apalagi kalau membawa minuman dan makanan yang menghasilkan sampah. Bagaimana tidak menyebalkan, jika saya "dipaksa" menenteng sampah ratusan meter karena tidak tersedianya tempat sampah ...